Fourteen Media — Pemecatan Shin Tae-yong dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia memunculkan masalah tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi keuangan bagi PSSI.
Dengan kontrak Shin yang diperpanjang hingga 2027, PSSI memiliki kewajiban untuk membayar kompensasi jika pemecatan dilakukan sebelum masa kontraknya berakhir.
Kontrak Shin Tae-yong yang bernilai sekitar Rp 20 miliar per tahun ini dapat menyebabkan PSSI harus mengeluarkan dana sekitar Rp 60 miliar sebagai pesangon jika ia diberhentikan lebih awal.
Tentu saja, hal ini menimbulkan dilema bagi federasi sepak bola Indonesia, apalagi jika dana sebesar itu berdampak pada program pembinaan lainnya yang telah direncanakan untuk Timnas Indonesia.
Shin Tae-yong pertama kali ditunjuk oleh PSSI untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia pada akhir 2019, tepatnya pada 28 Desember. Ia dihadirkan untuk menggantikan Simon McMenemy, yang pada saat itu gagal memberikan hasil memuaskan dengan skuad Garuda.
Keputusan untuk mendatangkan Shin pun dilatarbelakangi oleh harapan besar agar Timnas Indonesia bisa tampil lebih kompetitif di level internasional.
Namun, dengan adanya situasi yang kini berkembang, keputusan pemecatan Shin Tae-yong tentu akan menjadi pertimbangan yang kompleks bagi PSSI.
Selain mempertimbangkan masalah teknis di lapangan, masalah finansial juga menjadi isu penting yang harus dikelola dengan hati-hati agar tidak merugikan program-program lainnya yang sedang berjalan.