Blitar Kota

PMK Kembali Merebak, Jual-Beli Ternak di Pasar Hewan Dimoro Kota Blitar Lesu

Fourteen Media — Kembali merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak membuat aktivitas perdagangan di Pasar Hewan Dimoro, Kota Blitar, merosot tajam. Penurunan ini terlihat jelas pada hari pasaran Jawa, yakni Pon dan Legi, dengan jumlah sapi yang diperdagangkan turun drastis.

Kondisi tersebut tak hanya berdampak pada jumlah sapi yang diperdagangkan, tetapi juga pada harga jual sapi yang ikut anjlok. Harga sapi yang biasanya mencapai Rp 8 juta per ekor kini turun menjadi sekitar Rp 6 juta. Penurunan harga ini mengakibatkan banyak peternak memilih menahan sapi mereka dan tidak menjualnya sementara waktu.

Salah satu peternak asal Garum, Abdul Rokim, mengungkapkan bahwa aktivitas perdagangan sapi di Pasar Hewan Dimoro sudah sepi sejak tiga pekan terakhir. “Sudah tiga minggu ini Pasar Hewan Dimoro sepi. Jumlah sapi yang diperdagangkan turun drastis karena peternak khawatir dengan kasus PMK yang kembali naik,” ujarnya, Sabtu (4/1).

Baca Juga  Libur Nataru 2024 Terminal Patria Blitar Justru Sepi, Ini Alasannya

Rokim menambahkan, harga sapi turun sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per ekor akibat meningkatnya kasus PMK. “Saya masih punya lima ekor sapi di rumah. Alhamdulillah, sapi saya sehat karena diberi empon-empon, tetapi kami, peternak, tetap khawatir dengan situasi ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Hakim Sisworo, mengonfirmasi bahwa jumlah sapi yang masuk ke Pasar Hewan Dimoro memang menurun drastis.

Dalam kondisi normal, jumlah sapi yang diperdagangkan pada hari pasaran Pon dan Legi bisa mencapai lebih dari 500 ekor. Namun, dalam dua pekan terakhir, jumlahnya hanya sekitar 100 ekor.

Baca Juga  Kontrak Rp 48 Juta per Tahun, Legislatif Sebut Perpanjangan Sewa Kafe Jojo di Kota Blitar Terlalu Murah

“Jumlah sapi yang masuk sudah mulai meningkat lagi, sekitar 200 ekor. Namun, ini masih jauh dari kondisi normal,” jelasnya.

Mengenai rencana penutupan sementara pasar hewan untuk mencegah penyebaran PMK, dia menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah provinsi. “Saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk upaya pencegahan penyebaran PMK di pasar hewan,” imbuhnya.

DKPP Kota Blitar sendiri telah mengambil langkah antisipatif dengan menggelar pemeriksaan kesehatan sapi di Pasar Hewan Dimoro. Upaya ini dilakukan menyusul laporan meningkatnya kasus PMK di Kota Blitar pada awal 2025. Hingga kini, tercatat ada 18 kasus PMK, dengan satu ekor sapi dilaporkan mati akibat penyakit tersebut.

Related posts

Keluhkan Kenaikan HET Gas ‘Melon’, Pelaku Usaha di Blitar: Kami Tidak Punya Pilihan

Ham

Diancam dan Diintimidasi Usai Bongkar Kejanggalan PSU Pilwali, Anggota Panwascam di Kota Blitar Lapor Polisi

Ham

Tahun Ini Pemkot Blitar Kelola Dua Pajak dari Pemprov, Ini Alasannya

Ham

Leave a Comment